Pelajaran Dari D-Day
Keunggulan teknologi bukanlah segalanya untuk memenangkan sebuah duel lapis baja. Di luar itu urusan kelancaran pasokan logistik dan jumlah juga pegang peranan. Hal ini bisa dibuktikan di front pertempuran di Eropa menjelang akhir PD.
Varian M4 dan M4A1 Sherman merupakan tulang punggung armada tank Sekutu pada masa-masa awal pendaratan di Normandia,1949
Satuan panzer
Secara teknis keunggulan armada lapis baja Nazi Jerman terletak pada kesempurnaan kombinasi antara daya hantam senjata utama dan proteksi. Berbekal meriam kaliber 88mm sebagai senjata utama maka armada tank Tiger Jerman dapat dengan mudah menjebol lapisan dinding tank M4 Sherman sekutu. Ini berlaku untuk segala penjuru sudut tembakan dalam jarak tembak normal. Sebaliknya, agar bisa menghentikan aksi Tiger, dengan bekal meriam kaliber 75mm awak Sherman mau tak mau harus bergerak sedekat mungkin dengan target. Bahkan untuk varian Sherman dengan meriam yang lebih dahsyat buatan Inggris kaliber 76mm (British 17-pounder), jarak tembak efektif maksimal cuma bertengger pada angka 275 m saja.
Momok bagi pasukan lapis baja Sekutu tak hanya datang dan tank Tiger saja. Di luar itu pasukan darat Jerman juga mengoperasikan armada tak Pz.Kpfw. V Panther. Senjata utama Panther, berupa meriam KwK.42 kaliber 75mm punya daya hantam jempolan. Meriam ini sanggup merobek baja setebal 120mm dari jarak tembak sekitar satu kilometer. Untuk melubangi metal dengan tebal yang sama, senjata terberat pada armada tank Sekutu kala itu (meriam 17-pounder) hams bergerak hingga 455 m dari targetnya.
Baik Panther maupun Tiger masuk dalam golongan arsenal lapis baja istimewa alias diklasifikasikan sebagai arsenal standar adalah Pz.Kpfw. IV Ausf H dan Ausf J. Tercatat saat Operasi Overlord dilakukan pasukan darat Nazi menggelar 748 unit tank jenis ini di wilayah Normandia. Biarpun termasuk standar namun senjata utama Pz.Kpfw. IV berupa meriam kaliber 75mm punya daya lesat (muzzle velocity) 20% lebih tinggi ketimbang meriam-meriam M4 Sherman yang berkaliber sama. Ini artinya Pz.Kpfw. IV sanggup menjebol metal baja sampai setebal 92 mm. Sebagai perbandingan, untuk jarak yang sama, meriam Sherman cuma bisa merobek metal setebal 68mm saja.
Bila
ditengok ke belakang, tank ataupun kendaraan lapis baja bukan¬lah
barang baru dalam dunia peperangan. Taruhlah contoh penemu kondang
Leonardo da Vinci pernah membuat sketsa kendaraan tempur tahan peluru
yang diberi label war machine. Namun pewujudan sekaligus juga pembuktian
kemampuan baru dilakukan pada PD I ketika Inggris mengoperasikan
kendaraan tempur lapis baja yang diberi nama Big Willie, Male, dan
Female tank. Nama tank sendiri se¬benarnya secara tak sengaja dibakukan
untuk mengelabui penciuman intelijen lapis baja. Info yang disebarkan
secara umum disebutkan kalau ketiga jenis kendaraan di atas tak lebih
sebagai tangki (tank) untuk keperluan suplai garis depan.
Sekutu
Seperti sempat disinggung di atas, tulang punggung kekuatan lapis baja Sekutu dalam Operasi Overlord adalah tank M4 dan M4A1 Sherman buatan AS. Secara teknis tank ini unggul dalam soal kecepatan, olah gerak, serta jumlah tembakan yang bisa dilepaskan setiap menit (rate of fire). Namun sekali lagi, hal ini tak bisa jadi faktor penyeimbang terhadap kelemahan yang dimilikinya. Bahkan selain daya hantam meriam kelewat lemah plus lapisan metal tahan peluru dianggap tipis, Sherman punya satu kelemahan yang cukup membuat merinding para awaknya. Jika satu peluru lawan berhasil merobek bodi, bisa dipastikan tank akan langsung terbakar. Bila ini terjadi bisa dipastikan awak tank Sekutu cuma punya kesempatan 50% lobos dari maut.
Secara teknis, bahaya kebakaran dipicu dari persediaan amunisi Sherman yang letaknya saling berdekatan tanpa dilengkapi dengan sekat pelindung serta penggunaan bahan bakar bensin yang memang mudah terbakar. Selama PD II AS memang cenderung lebih memilih tank berbahan bakar bensin. Sebaliknya Jerman saat itu lebih banyak mengaplikasikan mesin diesel pada armada tanknya. Bahan bakar jenis ini punya titik bakar lebih rendah ketimbang bensin.
Tank
hebat Nazi Jerman Tiger II atau kerap disebut juga dengan King
Tiger/Royal Tiger masih tergolong senjata baru saat Sekutu mendarat di
Normandia. Tercatat cuma ada satu kompi tank jenis ini yang digelar
Jerman di Normandia, atau bila dihitung berjumlah 12 unit tank
Bila disimak sebagian besar kekuatan lapis baja Sekutu bertumpu pada tank Sherman. Sekitar dua pertiga kekuatan lapis baja adalah dari jenis tank ini. Sedang sisanya baru diisi oleh beragam tank buatan Inggris macam Cromwell dan Churchill. Dari segi teknis daya hantam kedua jenis tank tadi masih berada dibawah generasi terakhir Pz.Kpfw W atau Panther. Kelemahan tadi mulai bisa dibenahi tatkala Inggris melirik meriam artileri terberat miliknya saat itu, meriam 17-pounder (pdr). Bila ditembakkan meriam 17-pounder sanggup menjebol lapisan baja setebal 120mm dari jarak setengah kilometer Dalam penerapannya meriam ini bisa muncul dalam beragam bentuk. Mulai dari model konvensional berupa meriam tarik, dipakai sebagai senjata utama tank Sherman Firefly, serta meriam swagerak macam Archer atau Achilles.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar